![]() |
| Anak Jalanan di Simpang Dago Bandung |
Inilah gambar anak jalanan di simpang Dago, yang sedang menghitung uang receh hasil mengamen mereka. Lokasi ini dikelilingi beberapa kampus terkenal di Indonesia dan kota Bandung. Institut Teknologi Bandung, dan beberapa kampus swasta megah lainnya. Semua kampus kampus tersebut berlomba-lomba mendidik siswanya menjadi ahli, dengan kualitas bintang lima. Lulusannya di didik untuk bersaing, supaya bisa bekerja di perusahaan manca negara (Multi National Company), top 5, top 10 perusahaan kelas dunia. Ada duit bisa kuliah, mengambil sertifikasi international, tidak ada duit DO, tamatlah riwayatnya. Dari data-data yang saya kompilasi suatu kampus swasta di Bandung men DO hampir 58% mahasiswanya karena tidak ada kemampuan lagi untuk pembiayaan kuliah.
![]() |
| Enterpreneur cilik atau korban kapitalisme? |
Anak ini sekolah, kelas 5 SD, dia berjualan cobek dan ulegan itu setiap hari minggu. Rumahnya di luar kota. Jadi dia pagi-pagi buta naik kereta api diesel dari rumahnya ke kota, berjualan dan pulang kembali ke rumah di malam harinya. Sepasang cobek dan ulegan dia tawarkan dengan harga 15 ribu, boleh tawar, kata si anak.
Sudah sejak 1920 ITB berdiri, perubahan dan dampak untuk komunitas masih dipertanyakan. Penelitian, kegiatan memang menghasilkan GELAR, tapi DAMPAK UNTUK SOCIETY dan KOMUNITAS apa? masih dipertanyakan. Gelar kita Prof. Dr. Ir. MSc, MA, PhD, MBA, MM, tapi saya pikir lebih baik orang yang memberi dampak untuk komunitas dan society yg lebih pantas di beri gelar.
Sudah sejak 1920 ITB berdiri, perubahan dan dampak untuk komunitas masih dipertanyakan. Penelitian, kegiatan memang menghasilkan GELAR, tapi DAMPAK UNTUK SOCIETY dan KOMUNITAS apa? masih dipertanyakan. Gelar kita Prof. Dr. Ir. MSc, MA, PhD, MBA, MM, tapi saya pikir lebih baik orang yang memberi dampak untuk komunitas dan society yg lebih pantas di beri gelar.
Kita memang di didik untuk menjadi Kapitalis, untuk bekerja di perusahaan Kapitalis, bergaya Kapitalis, oleh kampus Kapitalis. Tapi kita masih bisa bertobat berubah, meminta hati yang baru yang perduli dari Tuhan.
Mari kita berubah dan berkolaborasi untuk Mendirikan Kampus Gratis di Indonesia dengan menggalang dukungan sampai 40.000.000 orang, bersama kita akan memiliki Bank Komunitas (Microfinance), mari kita semua belajar tentang Grameen Bank (Bank di Bangladesh yang dimiliki oleh 8,3 juta orang pemiliknya), dan belajar ber Komunitas seperti Mondragon Cooperation Cooperative di Spanyol, usaha Komunitas milik bersama yang menggurita ke manca negara.
Komunitas ini akan menjadi besar seperti Snow Ball, bahkan Tsunami, yang menggulung Kapitalisme, Keserakahan, Kesewenangan, Ketidakadilan, Praktek Praktek Non Good Governance di Pemerintahan, Lembaga Eksekutif, Yudikatif, Legislatif, dan mari bersama kita membuat wajah Indonesia yang lebih baik.
Salam
Facilitator Founder
Gerakan 40.000.000 orang untuk membangun kampus gratis di Indonesia
Mari kita berubah dan berkolaborasi untuk Mendirikan Kampus Gratis di Indonesia dengan menggalang dukungan sampai 40.000.000 orang, bersama kita akan memiliki Bank Komunitas (Microfinance), mari kita semua belajar tentang Grameen Bank (Bank di Bangladesh yang dimiliki oleh 8,3 juta orang pemiliknya), dan belajar ber Komunitas seperti Mondragon Cooperation Cooperative di Spanyol, usaha Komunitas milik bersama yang menggurita ke manca negara.
Komunitas ini akan menjadi besar seperti Snow Ball, bahkan Tsunami, yang menggulung Kapitalisme, Keserakahan, Kesewenangan, Ketidakadilan, Praktek Praktek Non Good Governance di Pemerintahan, Lembaga Eksekutif, Yudikatif, Legislatif, dan mari bersama kita membuat wajah Indonesia yang lebih baik.
Salam
Facilitator Founder
Gerakan 40.000.000 orang untuk membangun kampus gratis di Indonesia


No comments:
Post a Comment